Kurikulum Pengajaran di TPA Masjid An-Nashir, Wadah bagi Pengabdian Masyarakat 6 Mahasantri PERSADA UAD

YOGYAKARTA, Kegiatan Pengabdian masyarakat ini dimulai sejak 1 Ramadhan 1445 H atau bertepatan dengan tanggal 11 Maret 2024 M. Mahasantri PERSADA UAD non-FK diterjunkan ke 17 masjid/TPA di sekitar kampus utama UAD. Salah satunya adalah di masjid An-Nashir.

Terdapat 6 Mahasantri yang ditugaskan di masjid tersebut. Mereka adalah Muhammad Arifan Fitrianto, Khoirul Anies Abror, Muhammad Rihan Akbar, Aura Zuros, Faiza Az-Zahra dan Amalia Nur Syahida. Ke-6 mahasantri tersebut didampingi oleh 2 orang pengurus PERSADA UAD yakni Ustadz Riki Afrizal dan Ustadzah Nur Azizah.

Di TPA masjid An-Nashir, mereka mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan selama di PERSADA. TPA masjid An-Nashir tergolong ke dalam TPA yang sudah maju dan memiliki kurikulum tersendiri. TPA di sana tidak hanya diadakan ketika bulan Ramadhan saja, melainkan setiap hari termasuk di luar bulan Ramadhan.

TPA masjid An-Nashir ini telah menerapkan sistem kelas. Ada 3 kelas yang terbagi di sana yakni kelas A (paling kecil), kelas B (sedang) dan kelas C (paling besar). Pelajaran yang diberikan di setiap kelas juga berbeda.

Di kelas A, mereka belajar tentang adab makan & minum, menulis arab, bercerita, mewarnai, adab di masjid, menghafal surat-surat pendek, menghafal doa sebelum dan sesudah makan, adab terhadap orang tua, menggambar dan muroja’ah.

Sedangkan di kelas B, mereka belajar materi Aqidah, Bahasa Arab, menulis arab, tahsin mewarnai dan muroja’ah.

Adapun di kelas C, mereka diajarkan materi tarikh, fikih, Bahasa Arab, tahsin, akhlak, mewarnai dan muroja’ah.

Untuk materi muroja’ah dilakukan di hari yang sama antara kelas A, B dan C. Selain itu, di hari tertentu mereka juga mendapatkan pelajaran dari menonton film islami bersama.

Para mahasantri sendiri mengungkapkan kebahagiaan mereka dalam berkontribusi pada kegiatan pengabdian masyarakat ini. “Melalui pengabdian masyarakat, kami tidak hanya belajar teori saja, tetapi juga belajar tentang kehidupan nyata dan bagaimana kami dapat membantu, baik dalam mengajar anak-anak, menyiapkan takjil untuk berbuka, dan lain sebagainya” kata Arifan, salah satu mahasantri yang terlibat.

Program pengabdian masyarakat ini bukan hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga memperkaya pengalaman dan pemahaman mahasantri tentang permasalahan sosial yang ada. Dengan semangat yang sama, mereka berencana untuk melanjutkan upaya ini dan menjadikannya sebagai bagian integral dari pembelajaran mereka di bangku perkuliahan.