Belajar Syukur dari Ibu Penjual Gorengan

Belajar Syukur dari Ibu Penjual Gorengan

Oleh: Safitri Luthfiya Sari

 

Hujan siang itu jatuh tanpa jeda, seolah langit sedang menumpahkan seluruh lelahnya ke bumi. Jalanan basah, udara dingin merayap pelan, dan orang-orang melangkah cepat untuk mengejar waktu, menepis gerimis, dan nampak seperti sedang menyelamatkan diri dari keterlambatan. Wajah-wajah tampak datar, sibuk, bahkan sebagian menyimpan keluh yang tak sempat terucap.

Di tengah derasnya hujan dan hiruk-pikuk tengah hari itu, langkah seorang gadis tiba-tiba melambat. Hari itu ia sedang merasakan kelelahan batin yang luar biasa, banyak energi yang terkuras karena aktifitas fisik, pikiran dan perasaan. Benar-benar rutinitas yang melelahkan. Di seberang jalan itu, di bawah gubuk warung yang mulai nampak usang dimakan usia, berdiri seorang ibu penjual gorengan. Tubuhnya kecil dan renta, dibalut pakaian sederhana yang sibuk menyelamatkan dagangannya dari cipratan air hujan. Tangannya nampak gemetar saat menata gorengan yang tersisa, seolah berusaha menjaga harapan agar dagangan hari itu tidak sia-sia.

Awalnya si gadis hanya ingin lewat jalan itu. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang menahan. Hati terasa ditarik untuk mendekat. Sambil memegang payung, Ia menyeberang jalan dengan lari-lari kecil sambil menengok kanan-kiri untuk memastikan tidak ada kendaraan yang lewat. Beberapa gorengan ia beli lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan. Bukan karena lapar, melainkan karena ada rasa ingin berbagi yang tiba-tiba tumbuh.

Saat uang diserahkan, ibu itu mengangkat wajahnya. Keriput di wajahnya justru memancarkan keteduhan. Senyum tulus merekah, tanpa dibuat-buat, tanpa pamrih. Dengan suara pelan namun penuh keyakinan, ia berkata,

“Terima kasih, Nak. Semoga Allah mudahkan semua urusanmu.”

Kalimat itu sederhana. Tidak panjang. Tidak berlebihan. Namun entah mengapa, bagi si gadis kalimat itu mampu menembus dada begitu dalam. Ada doa yang mengalir tanpa syarat, ada keikhlasan yang lahir dari hati yang telah lama berdamai dengan keadaan.

Di hadapan keterbatasan yang nyata dan usia yang renta, hujan yang dingin, serta dagangan yang belum tentu habis tak terdengar dan tak nampak satu pun bentuk keluhan. Tidak ada raut putus asa. Yang ada hanyalah syukur dan keyakinan bahwa Allah selalu mencukupi kebutuhan hamba-Nya yang mau berusaha.

Hujan masih turun, tetapi hati terasa hangat. Dalam sekejap, kesadaran pun hadir: betapa seringnya diri mengeluh atas hal-hal kecil, padahal nikmat Allah begitu melimpah. Betapa mudah lupa bersyukur saat keinginan belum terpenuhi, sementara di luar sana, ada hati yang lapang meski hidup serba terbatas.

Sejak pertemuan singkat itu, sebuah pelajaran berharga tertanam kuat. Syukur bukanlah tentang memiliki segalanya, melainkan tentang menerima dengan lapang apa yang Allah titipkan. Akhlak mulia tidak selalu hadir dalam nasihat panjang atau kata-kata indah, tetapi sering lahir dari sikap kecil yang tulus, sebuah senyum, sebuah doa, dan hati yang penuh rasa cukup.

Senyum ibu penjual gorengan, berikut doa tulus dan rasa syukur yang pernah terucap di hadapan si gadis telah lama tertinggal di balik hujan siang itu. Namun ketulusannya tetap hidup, terus mengingatkan bahwa syukur sejati bukan diucapkan saat hidup mudah, melainkan dijaga saat keadaan terasa berat. Dan dari sanalah, ketenangan perlahan tumbuh.