Tentang sebuah Pilihan
Tentang Sebuah Pilihan
Oleh: Arafah Amantubillah Darussalam – Prodi Kedokteran
Di bawah langit Rembang yang mulai merona jingga, aku berdiri mematung di ambang pintu sebuah ruang kelas yang jauh dari kemewahan. Dinding-dindingnya yang mulai retak menyimpan aroma tanah kering dan sisa-sisa kapur tulis yang beterbangan tertiup angin senja. Di hadapanku, anak-anak pelosok itu masih riuh rendah. Ada yang mengeja abjad dengan suara parau, ada yang tertawa mengejar mimpi di sela debu lantai yang terbang.
Aku memandangi mereka satu per satu. Wajah-wajah polos yang menyimpan harapan besar pada pundakku yang sebenarnya mulai terasa lelah. Di tanganku, sebuah buku tua terbuka, dan mataku terpaku pada bait syair yang seolah menjadi nyanyian bagi jiwaku:
ولدتك أمك يابن آدم باكياً # والناس حولك يضحكون سرورا
فاجهد لنفسك أن تكون إذا بكوا # في يوم موتك ضاحكا مسرورا
“Kau terlahir dari rahim ibumu dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekelilingmu tertawa bahagia. Maka berjuhudlah untuk dirimu sendiri, agar ketika mereka menangisi kepergianmu di hari kematianmu kelak, kaulah yang tersenyum bangga dan penuh kebahagiaan.”
Seketika, hatiku bergetar hebat. Bait itu bukan sekadar rima, melainkan sebuah peringatan keras tentang hakikat kepulangan. Namun, getaran itu kini membawa ingatanku pada sebuah titik balik yang mengharu biru.
Beberapa tahun lamanya aku berjibaku. Aku menghabiskan malam-malam panjang dengan buku-buku tebal, memeras keringat, dan banyak per gejolak kan batin demi bisa melanjutkan studiku di Al-Azhar, Kairo. Mimpi untuk kembali menghirup udara di kota seribu menara itu sudah berada di pelupuk mata. Beasiswa yang kuperjuangkan dengan segala daya, doa, dan air mata akhirnya jatuh ke tanganku.
Namun, tepat di saat visa dan paspor telah rampung ku-urus, sebuah kegelisahan besar justru lahir. Setelah melalui sujud-sujud panjang dan perdebatan-perdebatan batin, serta konsultasi mendalam dengan kedua orang tuaku dan para guru-guru mulia yang telah membentuk jiwaku, aku mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang: Aku melepaskan beasiswa Al-Azhar itu.
Aku menyadari sebuah kebenaran puitis namun pahit: bahwa apa yang kita usahakan dengan cara yang baik dan niat yang benar, belum tentu merupakan hal yang “terbaik” dalam skenario Sang Maha Perencana. Terkadang, kita harus melepaskan cahaya yang kita inginkan demi menjadi lampu kecil bagi mereka yang benar-benar berada dalam kegelapan. Allah meneguhkan hatiku melalui firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Apakah keputusanku ini adalah bentuk “zuhud” yang nyata?. Aku teringat pada sindiran tajam Buya Hamka yang seolah menampar jiwaku setiap kali aku merasa lelah: “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera di rimba juga bekerja.”
Kata-kata Buya itu menyadarkanku tentang sebuah pengkerdilan dalam hidup. Pengkerdilan yang paling menyedihkan adalah ketika kita merasa cukup dengan satu bidang ilmu, lalu memilih meringkuk dalam tempurung zona nyaman, sementara dunia di luar sana sedang memanggil-manggil. Perjalananku melintasi berbagai pulau di Nusantara, dari pesisir yang terik hingga pegunungan yang sunyi telah membuka mataku selebar-lebarnya. Indonesia begitu luas, namun lapangan pengabdian di pelosok-pelosoknya masih banyak yang kosong melompong.
Di telingaku, kembali bergema suara teduh para Kyai dan Guruku yang dulu membimbingku di pesantren. Kalimat yang selalu mereka ulang-ulang kini menjadi kompas penggerak yang tak pernah mati: “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Aku mulai berpikir keras: Bagaimana mungkin aku bisa memberi manfaat yang seluas-luasnya jika aku hanya membatasi diri pada satu jendela ilmu? Aku tidak ingin menjadi kerdil karena enggan belajar hal baru. Aku memilih keluar dari zona nyamanku sebagai pengajar ilmu keislaman murni, dan memutuskan untuk kembali memasuki gerbang perkuliahan, menekuni disiplin ilmu lain yang mungkin jauh berbeda dari apa yang selama ini aku geluti.
Bagiku, ada tiga sektor sakral yang menjadi pilar martabat manusia di negeri ini, yakni: Pendidikan, Kesehatan, dan Agama. Ketiganya adalah mata rantai yang tak boleh putus. Tanpa agama, manusia kehilangan arah; tanpa pendidikan, manusia kehilangan akal; dan tanpa kesehatan, manusia kehilangan daya untuk mengabdi. Aku ingin mengisi ruang-ruang kosong di pelosok negeri ini, bukan hanya membawa dalil, tapi juga membawa kesembuhan dan pencerahan akal. Aku ingin membawa bekal ilmu yang lebih komprehensif sebagai persembahan terbaikku saat kelak harus menghadap Tuhanku.
Langkahku kembali menjadi seorang mahasiswa bukanlah pengkhianatan terhadap ilmu-ilmu keislaman yang kucintai, melainkan sebuah upaya penyempurnaan pengabdian. Aku ingin saat masaku habis nanti, aku tidak hanya membawa amal dari satu pintu. Aku ingin saat aku menutup mata kelak, anak-anak di Rembang ini, anak-anak di pelosok pulau sana, telah mendapatkan manfaat dari setiap ilmu yang kupelajari.
Di antara debu kelas dan tawa anak-anak Rembang ini, aku membulatkan tekad: Aku akan terus tumbuh, menembus batas pengkerdilan, dan menjadi cahaya di sektor-sektor yang paling dibutuhkan manusia. Sebab apalah artinya hidup jika hanya diam di satu tempat sementara dunia merintih butuh sentuhanmu? Aku memilih untuk pergi, belajar lagi, dan kembali dengan kemanfaatan yang lebih besar demi sebuah senyum kemenangan di hari kematianku nanti.
Di bawah langit Rembang yang kian memerah,
Kulepaskan Kairo tanpa rasa amarah.
Bukan karena cita-citaku telah punah,
Namun karena kutemukan jalan yang lebih berkah.
Gelar dan menara mungkin nampak megah,
Namun di sini, rintih dhuafa jauh lebih menggugah.
Kulepas satu mimpi demi sejuta langkah,
Agar hidupku tak sekadar habis dalam lelah yang salah.
Agama adalah ruh yang meniupkan nyawa,
Pendidikan adalah lentera yang menuntun jiwa,
Dan kesehatan adalah raga yang perkasa,
Ketiganya kan kurajut dalam bakti yang nyata.
Biarlah kera di rimba sibuk dengan perutnya,
Aku ingin hidupku menjadi jawaban bagi sesama.
Memecah sekat pengkerdilan yang selama ini ada,
Melebarkan sayap manfaat hingga ke ujung semesta.
Hingga tiba saatnya malaikat datang menjemput,
Saat raga ini kaku dan nyawa mulai larut.
Biarlah dunia menangis dengan duka yang terpaut,
Sementara aku tersenyum, di atas jalan-Nya yang ku-ikut.










Persada Uad
@persada_uad
+62 812-2738-5008

