Nyamuk-Nyamuk Penjaga Sholat
Nyamuk-Nyamuk Penjaga Sholat
Oleh: Abdul Faiz Zaidan Putra
Malam itu menjadi penutup dari rangkaian panjang kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun 2023. Sejak pagi, lapangan sekolah menjadi saksi kesibukan tanpa jeda, mulai dari tadarus Al-Qur’an, sarapan bersama, penyampaian materi, hingga aneka permainan kelompok dan perlombaan yang menguras tenaga dan tawa. Sore berganti malam, dan agenda puncak pun tiba, yakni Api Unggun. Sebelumnya, masing-masing peserta memang ditugaskan untuk membawa kayu bakar.
Sebagai panitia kegiatan, tugas kami belum selesai. Seusai Magrib, persiapan lapangan dilakukan dengan penuh kesungguhan, baik menata lampu, mengecek sound system, juga memastikan kayu-kayu api unggun siap dinyalakan. Namun satu hal penting masih kurang: minyak tanah. Bersama seorang teman, perjalanan dimulai dengan menyusuri warung demi warung di sekitar sekolah. Waktu terus berjalan, dan Adzan Isya berlalu, sementara minyak tanah tak kunjung ditemukan. Penjual minyak tanah semakin berkurang sejak aliran listrik berhasil masuk ke kampung-kampung.
Tak ada pilihan lain. Demi kelancaran acara, bensin pun menjadi solusi terakhir. Satu botol besar dibeli, lalu langkah kembali dipercepat menuju sekolah. Api Unggun akhirnya menyala, membakar kayu dan menyalakan rasa kekeluargaan serta semangat kebersamaan. Berbagai penampilan, yel-yel, tepuk-tepuk, tak terhindarkan, dan acara berlanjut hingga hampir pukul sebelas malam.
Lagi-lagi, bagi para panitia, pekerjaan belum benar-benar selesai. Lapangan harus dibersihkan, sampah, sisa-sisa kayu hingga kabel, semua dirapikan. Jarum jam menunjukkan angka dua belas tengah malam. Tubuh terasa sangat lelah, maka tanpa banyak berpikir panjang, tubuh pun rebah di tenda panitia dan mata terpejam.
Di sinilah kelalaian itu terjadi.
Sholat Isya terlewatkan.
Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat berubah menjadi ujian kecil, namun benar-benar bermakna bagi kami. Nyamuk-nyamuk berdatangan tanpa henti, mengganggu tidur, berdengung di telinga, dan meninggalkan rasa gatal di kulit. Posisi tidur berganti berkali-kali, selimut ditarik ke sana kemari, namun gangguan itu tak juga berhenti.
Hingga pukul dua dini hari, rasa jengkel berubah menjadi perenungan. Dalam posisi duduk, kesadaran itu datang menghantam lembut: sholat Isya belum ditunaikan.
Tanpa menunda lagi, langkah kaki mengarah ke tempat wudhu dengan mantap. Air dingin membasuh tangan, wajah, kepala dan kaki. Seolah bukan hanya sekedar membersihkan sebagian anggota tubuh, tetapi juga kelalaian. Sholat Isya pun ditegakkan dalam keheningan malam, dengan hati yang penuh penyesalan sekaligus rasa syukur.
Usai berdoa, tubuh kembali berbaring.
Ajaibnya, nyamuk-nyamuk itu seakan menghilang. Benar-benar hening, tak ada lagi dengungan, tak ada lagi gangguan. Malam kembali tenang, tidur pun datang dengan damai. Usai Shalat Subuh berjamaah, hati tersentuh oleh sebuah hikmah besar: Allah Maha Penyayang. Bahkan ketika seorang hamba lalai, teguran-Nya datang dengan cara yang paling sederhana, dan itu melalui makhluk kecil bernama nyamuk. Binatang pertama yang disebut dalam permulaan Al-Qur’an,
Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu… (QS. Al-Baqarah: 26)
Bukan untuk menyakiti, melainkan untuk mengingatkan.
Sejak malam itu, tersimpan keyakinan bahwa Allah tak pernah jauh dari hamba-Nya. Ketika sholat terlupa, ketika kewajiban terabaikan, bisa jadi Allah mengirimkan “nyamuk-nyamuk kehidupan” sebagai alarm kasih sayang-Nya. Tinggal bagaimana manusia peka membaca tanda, lalu kembali kepada-Nya. Karena sejatinya, teguran Allah selalu lahir dari cinta.











Persada Uad
@persada_uad
+62 812-2738-5008

