Habiburrahman El Shirazy Pesankan Pentingnya Imajinasi bagi Santri PERSADA UAD
YOGYAKARTA – Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan Universitas Ahmad Dahlan (Persada UAD) menyelenggarakan Seminar Nasional Karya Tulis Fiksi bertema “Menulis untuk Peradaban, Mengangkat Nilai-Nilai Kepesantrenan dalam Karya Tulis Fiksi” pada Ahad (18/10/2026) di Amphitheater B Fakultas Kedokteran UAD. Kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Persada UAD TV. Hadir sebagai narasumber utama Dr. phil. H. Habiburrahman El Shirazy, Lc., M.A., sastrawan dan novelis ternama yang akrab disapa Kang Abik.
Dalam seminar ini, Kang Abik menjelaskan bahwa imajinasi memiliki peran yang sangat vital, tidak hanya dalam dunia sastra, tetapi juga dalam membangun peradaban. Beliau memaparkan empat alasan mengapa imajinasi itu penting.
Pertama, imajinasi merupakan alat strategis untuk membangun masa depan. Imajinasi bukan sekadar khayalan yang tidak berguna, melainkan bentuk “mimpi sadar” yang dapat menjadi kenyataan jika direncanakan dengan baik. Beliau mencontohkan Nabi Yusuf AS, yang imajinasinya kemudian menjadi realita di masa depan.
Kedua, imajinasi menjadi pendorong kemajuan bangsa. Mengutip teori need for achievement dari McClelland, beliau menyampaikan bahwa negara-negara maju sering kali memiliki literatur atau cerita anak yang menanamkan nilai keberhasilan, semangat untuk maju, dan jiwa kepahlawanan, bukan sekadar cerita yang meninabobokan.
Ketiga, imajinasi menjadi alat dakwah yang halus. Melalui cerita, nilai-nilai kebaikan seperti keikhlasan dan kemandirian dapat tersampaikan secara lebih meresap dan tidak menggurui, karena menyentuh sisi emosional pembaca sehingga nilai keislaman dan kepesantrenan lebih mudah diterima.
Keempat, imajinasi adalah kunci dalam memecahkan masalah. Beliau mencontohkan strategi pertahanan pada Perang Khandaq yang lahir dari imajinasi Salman Al-Farisi, ia mengusulkan pembuatan parit, sebuah inovasi yang belum pernah dilakukan di wilayah tersebut sebelumnya.
Meski demikian, Kang Abik menegaskan bahwa fiksi adalah karya imajinatif yang tetap menuntut penulisnya menjaga logika yang sehat agar ceritanya dapat diterima akal. Untuk menyeimbangkan imajinasi dan logika, beliau juga memaparkan empat hal.
Pertama, berpegang pada realitas sosial. Karya sastra yang kuat sering kali merupakan in’ikas minal waqi’ atau pantulan dari realita di masyarakat. Beliau mencontohkan novelnya, Ketika Cinta Bertasbih, yang berakar dari pengamatan masalah nyata seperti perjuangan mahasiswa di luar negeri, bukan sekadar khayalan.
Kedua, mematuhi “aturan main” dalam fiksi. Sefiksi apa pun sebuah cerita, ia tidak boleh melanggar logika dasar, misalnya menggambarkan air mengalir dari hilir ke hulu, kecuali ada penjelasan yang masuk akal dalam konteks dunia cerita tersebut.
Ketiga, memanfaatkan riset dan data. Imajinasi menjadi lebih kuat jika ditopang data. Kang Abik mencontohkan tokoh dalam novelnya yang menaiki keledai di Gaza, yang bukan tanpa dasar, melainkan berangkat dari data bahwa di tengah blokade dan krisis bahan bakar, keledai menjadi sarana transportasi yang lebih berharga daripada mobil mewah.
Keempat, menjaga batasan akidah dan moral. Bagi penulis Muslim, imajinasi tetap harus dibatasi oleh nilai agama. Imajinasi yang sehat adalah imajinasi yang membawa kebaikan dan tidak mempropagandakan hal-hal yang merusak martabat manusia maupun nilai-nilai keislaman.
Memasuki sesi dialog, suasana seminar semakin hidup dan penuh semangat. Para peserta tampak antusias mengangkat tangan untuk mendapat kesempatan bertanya. Pertanyaan yang diajukan juga beragam dan kritis. Beberapa peserta menanyakan bagaimana cara memadukan ilmu agama dengan imajinasi dalam penulisan, tanpa kehilangan kedalaman pesan. Peserta lain mempertanyakan sejauh mana batasan berimajinasi bagi seorang Muslim, mengingat fiksi memberi ruang yang luas bagi khayalan. Ada pula yang penasaran dengan inspirasi di balik karya-karya besar Kang Abik, termasuk proses lahirnya novel-novel yang telah dibaca jutaan orang.
Kang Abik menanggapi setiap pertanyaan dengan lugas dan komunikatif, sembari kembali menegaskan pentingnya menjaga batasan akidah dan moral, berpijak pada realitas, serta menopang imajinasi dengan riset dan data. Perpaduan antara jawaban yang mendalam dan penyampaian yang santai membuat para peserta betah menyimak, bahkan banyak yang tampak mencatat poin-poin penting dari setiap jawaban.
Rangkaian seminar ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada Kang Abik sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih atas ilmu serta pengalaman yang telah dibagikan kepada para santri. Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama yang berlangsung hangat dan penuh keakraban, menjadi penanda kebersamaan antara narasumber dan seluruh peserta. Seminar berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh antusiasme hingga akhir acara.
Melalui seminar ini, Persada UAD berharap para santri tidak hanya terinspirasi, tetapi juga terdorong untuk mulai menuangkan gagasan dan imajinasinya dalam karya tulis fiksi yang sarat nilai-nilai kepesantrenan. Dengan bekal logika yang sehat, riset yang matang, dan batasan akidah yang terjaga, santri diharapkan mampu menghadirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan dan memberi kontribusi nyata bagi peradaban. (Hilwa)











Persada Uad
@persada_uad
+62 812-2738-5008

