PERSADA UAD Latih Santri Susun Khutbah dan Kultum dengan AI, Tekankan Akurasi Dalil dan Etika Dakwah

YOGYAKARTA — Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan Universitas Ahmad Dahlan (PERSADA UAD) menggelar Pelatihan Khutbah dan Kultum bertema “Pemanfaatan AI untuk Membuat Teks Khutbah dan Kultum” pada Ahad (11/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Amphiteater B, Gedung Fakultas Kedokteran, Kampus IV UAD ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube PERSADA UAD TV.

Hadir sebagai narasumber, Wakil Rektor UAD Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Dr. H. Nur Kholis, S.Ag., M.Ag. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta memahami tantangan yang kerap dihadapi seorang mubaligh, terutama ketika diminta menyampaikan ceramah secara mendadak.

Menurutnya, kemampuan berdakwah tidak cukup hanya dengan menguasai teks atau mengutip dalil. Seorang mubaligh harus mampu menghubungkan ajaran Islam dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat agar pesan dakwah lebih kontekstual dan memberikan manfaat.

“Tugas utama seorang mubaligh adalah menghubungkan dalil dengan persoalan nyata yang dihadapi jamaah. Dengan demikian, pesan dakwah tidak berhenti pada teks, tetapi juga relevan dengan kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Nur Kholis juga menerangkan perbedaan mendasar antara khutbah Jumat dan kultum. Khutbah Jumat merupakan bagian dari rangkaian ibadah yang memiliki ketentuan, rukun, dan tata cara tertentu. Karena itu, penyusunannya harus memperhatikan pemenuhan rukun serta urutan pokok khutbah. Sementara itu, kultum merupakan penyampaian nasihat keagamaan secara singkat dengan susunan yang lebih fleksibel. Kendati demikian, keduanya tetap harus berlandaskan dalil yang benar, memiliki tujuan yang jelas, serta disampaikan dengan adab dan bahasa yang mudah dipahami.

Pada sesi inti, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu menyusun teks khutbah dan kultum secara sistematis. Teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk menggali ide, merancang kerangka materi, mengembangkan pembahasan, hingga menyesuaikan bahasa dengan karakteristik jamaah.

Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam penyusunan materi dakwah harus disertai sikap kritis dan kehati-hatian. Hasil yang diberikan teknologi tersebut tidak boleh diterima begitu saja, terutama ketika berkaitan dengan ayat Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan keagamaan yang membutuhkan ketepatan sumber.

“AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menyusun materi dakwah, tetapi hasilnya harus diperiksa dan diverifikasi. Tanggung jawab atas kebenaran dalil dan isi pesan tetap berada pada penceramah,” tegasnya.

Melalui pelatihan ini, PERSADA UAD berupaya membekali santri dengan keterampilan menyusun materi khutbah dan kultum yang benar, sistematis, menarik, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini sekaligus mendorong santri agar adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengabaikan prinsip-prinsip keilmuan dan etika dalam berdakwah.

Pemanfaatan AI diharapkan dapat memperkuat kesiapan santri menjadi kader mubaligh yang mampu menyampaikan Islam secara mencerahkan, menggembirakan, dan berkemajuan. Dengan memadukan kecakapan digital, ketepatan dalil, serta pemahaman terhadap realitas sosial, dakwah diharapkan semakin relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat pada era digital. (DF/HLW)