RAMADHAN BERSAMA KELUARGA

Oleh: Hilma Latifa Rasyid

 

الحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ اْلمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kita kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunianya. Yang kedua, tidak lupa shalawat beriringkan salam kita haturkan kepada suri tauladan kita Nabiyullah Muhammad SAW yang semoga kita semua sebagai umat muslim mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti.

Dalam kesempatan kali ini saya akan memberikan sedikit kajian terkait dengan Ramadhan bersama keluarga.

Bulan suci Ramadhan sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia. Selama bulan ini, seluruh umat Islam diwajibkan berpuasa dan dianjurkan untuk menjalankan ibadah lainnya. Karena nilai pahalanya berkali-kali lipat lebih tinggi. Ramadhan juga bisa disebut sebagai bulan untuk keluarga. Sebab di bulan ini keluarga muslim bisa mempererat silaturahmi antar anggotanya sekaligus bertujuan untuk meraih keberkahan.

Kewajiban berpuasa Ramadhan tercantum dalam ayat 183 Surat Al-Baqarah. Tak jauh dari situ, tepatnya pada ayat 187, Allah SWT mengatur hubungan dalam keluarga, khususnya di bulan Ramadhan. Ayat ini juga menyatakan bahwa betapapun sibuknya situasi, umat Islam tidak boleh mengabaikan hak pasangan atau dalam hal berkaitan dengan urusan keluarga. Menurut ajaran Islam, kontak fisik dan kasih sayang antar pasangan sah bukan sekedar soal nafsu. Karena setelahnya akan ada efek tenang dan menyenangkan.

Ayat yang terletak sesudah ayat kewajiban berpuasa dapat ditafsirkan sebagai berikut. Allah SWT berharap bulan Ramadhan menjadi motor penggerak peningkatan hubungan dengan pasangan, termasuk mempertegas nilai-nilai keagamaan keluarga muslim. Selama bulan Ramadhan dan puasa, banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan untuk mempersatukan dan mempertemukan keluarga serta memperluas ilmu agama dan pahala. Misalnya saja sahur atau berbuka puasa. Jika orang tua dan anak sering makan bersama, hal ini akan memperkuat keintiman antar anggota keluarga. Nyatanya, makan bersama membawa keberkahan, sebagaimana tersebut dalam hadis Nabi.

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar berkata: “Hadis Ibnu Umar meriwayatkan Tabrani memuat keterangan tentang illat (penyebab) peristiwa di atas. Hadis tersebut diawali dengan: “Jangan makan sendirian, tetapi makanlah bersama-sama.” karena makanannya sebenarnya cukup untuk dua orang.” Hadis ini menunjukkan bahwa makanan satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan orang berikutnya juga cukup untuk keberkahan selanjutnya yang didapat dari makan bersama. Semakin banyak orang yang makan bersama maka akan semakin banyak keberkahannya.

Diriwayatkan dalam HR Abu Daud, dari Wahsyi bin Harb dari bapaknya dari kakeknya, “Sesungguhnya para sahabat Rasulullah SAW pernah mengadu, ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya kami makan, tetapi tidak merasa kenyang.’

Nabi bersabda, ‘Mungkin kalian makan sendiri-sendiri?’. ‘Betul’, kata para sahabat. Nabi lantas bersabda, ‘Makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah sebelumnya, tentu makanan tersebut akan diberkahi’.”

Maka, sayang sekali bila momen Ramadhan justru dilewatkan dengan sibuk beraktivitas dengan gawai (gadget). Jangan sampai benda-benda mati malah melalaikan diri dari membangun keakraban, mengobrol antar keluarga.