MOMENTUM HIJRAH, MERAIH BERKAH

Menyambut hadirnya tahun baru Islam 1443 H, Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan (PERSADA) Menyelenggarakan acara  Tabligh Akbar dengan tema” Momentum Hijrah, Meraih Berkah” bersama Ustadz Muhammad Faizar Hidayatullah. Beliau adalah narasumber Ruqyah Trans 7 dan Founder Arsyada Yadaka Indonesia. Ustadz Faizar merupakan sosok ustadz yang menggunakan metode ruqyah syar’iyyah sebagai jalan dakwahnya. Kepopulerannya terlihat saat beliau pertama kali muncul  sebagai peruqyah di salah satu program Tv Swasta berjudul Ruqyah Trans 7.

Acara Tabligh Akbar dilaksanakan pada hari Kamis, 3 Muharram 1443 H yang bertepatan pada tanggal 12 Agustus 2021 M. Acara tersebut berlangsung pada pukul 09.00-11.30 WIB yang diikuti oleh seluruh pengurus, mahasantri PERSADA dan peserta umum melalui aplikasi Zoom dan Live YouTube PERSADA UAD TV.

Ustadz Thonthowi selaku mudir PERSADA memberikan sambutan pada awal acara. Beliau menyampaikan bahwa bulan Muharram memiliki arti khusus yaitu hijrahnya nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sehingga peristiwa tersebut dijadikan sebagai dasar penetapan awal tahun baru islam (Hijriyah).  Beliau juga mengingatkan agar kita sebagai umat muslim tidak lupa untuk menunaikan puasa pada bulan Muharram yaitu pada tanggal 9 dan 10, karena sebaik-baik puasa setelah puasa wajib bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Untuk menyelisihi puasa kaum yahudi pada tanggal 10 Muharram, maka umat muslim dianjurkan juga untuk menunaikan puasa Muharram pada tanggal 9 (puasa Tasu’a), karena orang-orang yahudi mengagungkan puasa pada tanggal 10 Muharram.

Ustadz Faizar menyampaikan bahwa untuk meraih keberkahan hijrah, maka kita harus tahu terlebih dahulu makna hijrah. Hijrah secara istilah adalah berpindah dari negeri kekufuran kepada negeri islam. Menurut Al Habib Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari, makna Hijrah adalah meninggalkan apa-apa yang Allah larang dari yang haram dan yang makruh sekalipun. Oleh karena itu, orang yang berhijrah sudah pasti akan menjauhkan dirinya, keluarganya, gaya hidupnya sampai aqidah dan pemikirannya dari perkara-perkara yang tidak sejalan dengan islam.

Berbicara Hijrah, maka Hijrah itu ada dua, yaitu Hijrah Hissiyah dan Hijrah Ma’nawiyyah. Hijrah Hissiyah itu adalah hijrah yang bisa dipandang, dirasakan dan disifati, terbagi menjadi  4 jenis, yaitu 1. Berhijrah kepada Rosulullah SAW, ini adalah hijrah yang utama. 2. Berhijrah dari negeri orang kafir ke negeri islam. 3. Berhijrah dari suatu tempat yang buruk pada suatu tempat yang baik. 4. Hijrah ke negeri Syam pada akhir zaman ketika banyak fitnah-fitnah disekitar kita, kelak semua umat muslim akan berkumpul di negeri Syam untuk menyambut kedatangan Imam Mahdi. Sedangkan Hijrah Ma’nawiyyah adalah berpindahnya keyakinan kita dari kesyirikan kepada ketauhidan, dari amalan yang tidak diperintahkan oleh nabi Muhammad SAW kepada amalan yang diperintahkan oleh nabi Muhammad SAW, dari kemaksiatan kepada ketaatan terhadap Allah SWT. Ditetapkan dalam Sunan Abu Dawud bahwa hijrah yang paling utama adalah hijrah dari apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, agar hijrah seseorang itu sukses maka ia harus memperbarui niat dan bertaubat kepada Allah SWT untuk tidak melakukan kesalah-kesalahan di masa lampau.

Ustadz Faizar menyampaikan pesan di akhir acaranya “jika kita sudah berhijrah lalu bermaksiat, maka jangan tinggalkan dakwah kepada Allah SWT, karena jika orang yang berdosa tidak mau memberikan nasehat, maka di dunia ini tidak akan ada satu orang penasehatpun, dan perintah Allah dalam surat al-Ashr juga pasti akan ditinggalkan, yaitu saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran, karena sejatinya manusia tidak pernah terlepas dari kesalahan dan dosa”.

“Kita juga harus menjaga diri dari dosa-dosa kecil yang menyebabkan su’ul khotimah, dan amalan kebaikan  yang dikerjakan secara tersembunyi itulah yang akan menyebabkan seseorang mendapatkan akhir kematian yang khsunul khotimah, Mari kita usahakan ada amalan kebaikan yang tersembuyi agar dapat menghantarkan kita pada kematian yang khusnul khotimah”, tuturnya. en