Islam memang satu-satunya agama yang unik, agama yang kata Rasul “Rahmatan Lil ‘Aalamiin”, bagaimana tidak ? agama yang memiliki rasa toleransi yang sangat amat tinggi ini bahkan terkadang saking toleransinya tak jarang pula Islam dilabeli dengan agama yang “Overtolerant” tapi label seperti itu masih lebih baik daripada label yang mengatakan bahwa Islam itu “Intolerant” (semoga Allah memberikan hidayah bagi “orang-orang” itu). Lalu kita bertanya, dimana sih letak toleransinya itu ? Baik, kita ambil satu sample sederhana dari aktivitas ibadah umat Islam yang menjadi simbol toleransi umat sedunia itu sebut saja “Kurban”.

Secara etimologis, kata “Qurban” (dalam bahasa Arab) atau “Kurban” (dalam bahasa Indonesia bahkan terkadang ada yang memelintir menjadi Korban) merupakan “Mashdar” dari kata “Qaruba-Yaqrubu” yang artinya dekat atau ingin lebih dekat (Taqarrub). Singkatnya, Qurban ialah salah satu rangkaian ibadah dalam Islam yang bertujuan untuk dekat atau lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun kata “Adha” atau “Udhiyyah” adalah istilah lain dari Qurban itu sendiri yang maknanya hewan yang disembelih pada waktu dhuha. Tapi perlu digaris bawahi makna dekat disini bukan hanya diperuntukkan bagi seorang hamba dengan Tuhannya namun makna dekat disini juga diperuntukkan bagi sesama manusia.

Idul Adha bukan hanya diperuntukkan bagi umat muslim saja tapi untuk semua umat beragama, apa contohnya ? contoh yang paling baik ialah sebuah Pesantren yang terletak di sebuah desa bernama Batakte, kecamatan Kupang Barat, NTT. ‘Hidayatullah’ itulah nama Pesantrennya, hampir 100% penduduk dari desa itu beragama Katholik & Protestan namun uniknya ketika Idul Adha tiba seluruh warga di desa itu tidak terkecuali muslim/non-muslim semuanya merasakan kebahagiannya, kenapa ? karena mayoritas peternak sapi & kambing merupakan warga non-muslim dan saat “Hari Orang Islam” (sebutan mereka untuk Idul Adha) tiba itulah kesempatan berharga bagi mereka untuk menjual hewan ternaknya dengan harga tinggi selain itu dalam Islam sendiri tidak ada larangan untuk membagikan hewan Qurban kepada non-muslim(dan memang mayoritas warga disana non-muslim), sehingga saat Panitia penyembelihan hewan qurban membagikan daging qurban kepada warga non-muslim mereka begitu antusias menyambutnya (lebih jelasnya lihat postingan facebook Jonru Ginting).

Inilah salah satu toleransi dalam Islam yang mungkin tidak ada dalam agama lain, urusan perut/makanan adalah hal yang paling baik dan sederhana untuk memulai sebuah toleransi. Kalau kita mau bertadabbur, hampir semua makanan yang dikonsumsi oleh orang Islam tidak dipermasalahkan oleh umat beragama lain bahkan mendatangkan manfaat-manfaat yang baik bagi konsumen, mengapa ? karena segala jenis makanan dalam Islam ADA ATURANNYA. Lalu bagaimana dengan makanan yang dikonsumsi oleh agama lain ? Mengapa Islam tidak menerima seluruhnya seperti halnya umat beragama lain menerima segala jenis makanan yang dihalalkan Islam ? Apakah ini bisa disebut sebagai toleransi ? Marilah kita berkaca dengan ilmu kesehatan dalam pangan khususnya Islam mengharamkan babi misalnya, bahkan sebelum tekhnologi pangan menyatakan kandungan-kandungan berbahaya dalam babi ketika dikonsumsi Islam telah jauh-jauh masa telah mengharamkannya dan memang sampai sekarang itu menjadi fakta yang tidak bisa terelakkan bahwa babi yang sampai saat ini masih dikonsumsi oleh “saudara” kita dari agama lain berbahaya untuk kesehatan tubuh jika terus-terusan dikonsumsi serta masih banyak lagi makanan yang dihalalkan oleh agama lain belum tentu halal juga bagi Islam. Inilah alasan Islam dengan segala hukumnya yang benar-benar ingin menjaga pemeluknya dari hal-hal yang mendatangkan mudharat/keburukan, benarkah bila tindakan umat Islam untuk membentengi dirinya ini kemudian dilabeli dengan “Intoleran” ? rasa-rasanya itu kurang tepat.

Maka dalam hal makanan diatas, ibadah Qurban merupakan pedoman terbaik bagi umat sedunia untuk dijadikan referensi cara penyembelihan yang paling baik terhadap binatang. Karena tentunya daging-daging yang kita konsumsi selama ini sangat dipengaruhi oleh cara penyembelihannya. Sebuah Universitas terkemuka di Jerman yang bernama “Hannover University” telah melakukan penelitian ilmiahnya melalui dua staff ahli peternakan yaitu, Prof Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Inti dari penelitian ini keduanya ingin meneliti manakah cara penyembelihan paling baik dan tidak menimbulkan rasa sakit pada binatang antara penyembelihan secara syari’at Islam & penyembelihan dari metode barat (dengan proses pemingsanan) ? Singkatnya, sebelum mulai disembelih pada permukaan otak kecil sapi dipasang sebuah alat detektor rasa sakit yang disebut dengan Electro-Encephalograph (EEG) serta dipasang pula di permukaan jantung sapi untuk merekam aktivitas detak jantungnya saat darah keluar karena disembelih dengan alat yang bernama Electro Cardiograph (ECG). Hasil akhir dari penelitian ini membuktikan bahwa hewan yang disembelih dengan cara syariat tidak merasakan sakit sama sekali sehingga darah keluar bercucuran dengan deras yang nantinya akan menghasilkan healthy meat (daging yang sehat) yaitu daging tanpa tercampur darah dari hewan itu sedikit pun. Bahkan kedua ilmuwan itu juga menyebutkan bahwa ekspresi meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat sapi disembelihy ternyata bukan ekspresi rasa sakit melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ disebabkan darah yang mengucur deras. Sedangkan hewan yang disembelih dengan cara barat merasakan sakit yang luar biasa hebatnya karena mereka menggunakan metode pemingsanan yaitu dengan pemukulan, sehingga ketika sapi jatuh dan pingsan aktivitas jantung pun meningkat dan saat disembelih (walaupun tidak meronta-ronta karena pingsan) darah yang keluar pun tidak maksimal karena rasa sakit yang dirasakan sehingga darah yang tidak keluar itu membeku & menyatu bersama daging dalam tubuhnya yang kemudian menghasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat) akibat darah yang tercampur dengan daging (lebih lengkapnya bisa dilihat di situs resmi Hannover University).

Bila kita kembali kepada sunnah yang telah diajarkan Rasulullah SAW, maka kita akan menyadari betapa berharganya pelajaran yang Rasulullah sendiri telah mengingatkan kita jauh sebelum ditemukannya teknologi yang super canggih di masa ini. Rasulullah pernah bersabda :

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ ، قَالَ:

قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَا رَسُولَ اللهِ ، مَا هَذِهِ الأَضَاحِيُّ ؟ قَالَ : سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

“Dari Zaid Ibn Arqam berkata : Para sahabat Rasulullah SAW berkata: Ya Rasulallah ada apa dengan kurban ini ? Beliau bersabda : Sunnah bapakmu Ibrahim” (HR. Abu Dawud dalam kitab Al-Musnad Al-Jami’ dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah)

Hadist ini menerangkan tentang qurban yang disyariatkan langsung oleh Rasulullah sendiri. Sejarah qurban sendiri memang menarik untuk kita telaah kembali, sejarah ini bermula dari seorang Nabi yang nantinya akan menjadi ‘Bapak’ bagi Nabi-Nabi setelahnya serta Nabi inilah yang disebut-sebut sebagai sumber munculnya 3 agama besar di dunia yakni, Yahudi, Nasrani, & Islam. Dialah Nabi kita Ibrahim AS, pada suatu malam Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu dalam mimpinya yang isi dari wahu itu tidak lain dan tidak bukan adalah perintah untuk menyembelih anak laki-laki yang sangat disayangnya. Betapa tidak, Ibrahim yang selama ini menanti-nanti kelahiran Ismail namun tak lama kegembiraan itu tiba-tiba perintah sekaligus ujian datang dari Allah untuk menyembelihnya. Maka dengan penuh kepatuhannya Ibrahim mengamini perintah Allah untuk menyembelih anaknya sendiri. Dengan penuh keikhlasan dan ketulusan hatinya datanglah Ibrahim kepada anaknya mengatakan secara terang-terangan tanpa adanya majas ataupun kata-kata kias lainnya :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. Ash-Shaffat:102)

Kita bisa melihat kata-kata Nabi Ibrahim diatas sangatlah tegar, “tega”, serta tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya tentang cerita dalam mimpinya dan beliau mengungkapkannya dengan begitu jelas. Namun, Ismail adalah anak yang sangat patuh pada orang tua, ia mengerti kedudukan ayahnya dan posisinya sebagai seorang anak maka dengan penuh keimanan dan kepercayaan sebagai seorang mukmin, ia kemudian berkata :

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat:102)

Suatu jawaban yang diluar dugaan nalar manusia, jawaban dari simbol keimanan, ketaqwaan, dan kepasrahan yang merupakan manifestasi terhebat dari kepribadian Ismail sendiri. Maka tatkala Ibrahim mulai membaringkan Ismail atas pelipisnya turunlah wahyu dari Allah :

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya), Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (QS. Ash-Shaffat:103-107)

Ketika Ismail dibaringkan seketika itu pula Malaikat Jibril datang kepada Ibrahim dengan membawa seekor kibas (domba) seraya berkata : “Sembelihlah ini sebagai ganti dari anakmu” maka semenjak peristiwa itulah qurban menjadi sunnah bagi kita hingga saat ini dan setelah datangnya Rasulullah SAW maka mulailah disyariatkannya qurban kepada umatnya hingga saat ini, Allah SWT berfirman :

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ

Kami Abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (QS. Ash-Shaffat:108)

Inilah esensi sesungguhnya dari Idul Adha, kesepakatan antara seorang ayah dengan anaknya, kesepakatan yang dilandasi dengan pondasi keimanan, kesabaran, keikhlasan yang pada akhirnya melahirkan sebuah perjanjian yang sama sekali tidak merugikan keduanya. Uniknya Idul Adha pada tahun ini bertepatan dengan kalender Masehi, Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijah 1438 H bertepatan dengan Kalender Masehi yang jatuh pada tanggal 1 September 2017 M. Seolah keduanya ingin menunjukkan “kesepakatan” akan hari yang mulia ini, seolah keduanya ingin menunjukkan bahwa Idul Adha adalah simbol toleransi yang paling tepat untuk problem keagamaan di dunia saat ini. Selain itu kesadaran muslim terhadap Islam sendiri semakin lama semakin membaik, bila sebelumnya “sebagian” muslim hanya hobi memviralkan ‘fitnah’, ‘ghibah’, atau bahkan ‘namimah’ namun sekarang umat Islam sudah mulai memviralkan ‘sunnah’. Mulai dari Surat Al-Kahfi setiap hari Jumat hingga Puasa Arafah yang hampir seluruhnya melaksanakan dan perkembangan ini jauh lebih baik dibanding jumlah pelaksana sebelumnya.

Bahkan kesepakatan ini juga terjadi pada musim haji itu sendiri, Haji & Qurban ialah dua hal yang tak terpisahkan. Setiap tanggal 9 Dzulhijah kiswah Ka’bah selalu diganti dengan kiswah yang baru, lalu kenapa harus tanggal 9 Dzulhijah ? karena ketika itu jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah sehingga suasana di sekitar Ka’bah menjadi sepi maka saat itulah kesempatan para petugas pengganti kiswah akan memulai pekerjaan mereka hingga para jamaah haji tersadar bahwa kiswah telah diganti ketika mereka kembali. Terkait Haji & Qurban saya teringat sebuah ungkapan indah dari Imam Ibn Rajab Al Hanbaly dalam Lathaiful Ma’arif yang ditulis oleh Ust Salim A Fillah dalam salah satu postingan beliau :

من لم يستطع الوقوف بعرفة # فليقف عند حدود الله الذى عرفه

ومن لم يستطع المبيت بمزدلفة # فليبت على طاعة الله ليقربه ويزلفه

ومن لم يقدر على ذبح هديه بمنى # فليذبح هواه ليبلغ به المنى

ومن لم يستطع الوصول للبيت لأنه بعيد # فليقصد رب البيت فإنه أقرب إليه من حبل الوريد

Siapa belum mampu berdiam-wukuf di Arafah suci # Hendaklah ia berhenti pada batas hukum Allah yang telah dia mengerti

Dan siapa yang belum  mampu mabit-bermalam di Muzdalifah # Bermalamlah dengan ketaatan pada Allah agar akrab pada-Nya & dekat bermesra

Dan siapa yang belum kuasa menyembelih hewan hadyu-nya di Mina # Hendaklah ia sembelih hawa nafsunya agar dengannya ia sampai pada cita-cita

Dan siapa yang belum mampu sampain ke Baitullah bersebab jauhnya # Hendaklah ia tuju Rabbnya Ka’bah yang lebih dekat daripada urat lehernya

Ungkapan diatas merupakan sebuah bentuk ekspresi yang menggambarkan bahwa kita bisa mabrur sebelum haji atau bahkan tanpa haji sekalipun. Maka di Idul Adha ini sungguh menjadi pembelajaran bagi kita semua terkhusus umat muslim bahwa hendaknya kita dapat mengambil pelajaran dari Nabi Ibrahim dengan Ismail dalam kesepakatan yang mendatangkan beribu-ribu keberkahan bukan kesepakatan yang dilandasi dengan hawa nafsu yang hanya mendatangkan kemudharatan. Semoga kita senantiasa diberikan keterbukaan hati, kelapangan dada, serta kedalaman ilmu untuk memaknai esensi dari Idul Adha itu sendiri.

Waffaqakumullah

Marhaban Yaa Syahral Qurbaan

Idul Adha: Sebuah Refleksi Kesepakatan

Leave a Reply