• Bulan di senja hari

    Sore ini seperti biasa seorang gadis bernama Bulan duduk termenung sendiri di kursi taman. Tangannya lincah memainkan harmonica yang dibawanya. Ia selalu memainkan lagu- lagu sendu. Mengesankan...

    Read More
  • Desember Ceria untuk PERSADA

    Alhamdulillah pada bulan Desember 2013 ini santri PERSADA UAD berhasil memberikan prestasi yang gemilang dengan menyumbangkan 8 piala: 1. Juara 1 Lomba Essay atas nama Sukahar Ahmed Syafi’i 2....

    Read More
  • Konser & Dakwah DEBU

    Assalamu’alaikum. Kepada rekans sekalians, berikut ini pemberitahuan dari Universitas. Dalam rangka Milad UAD ke-53, akan diselenggarakan Konser & Dakwah, insyaAllah pada: Hari/tanggal : ...

    Read More

Bulan di senja hari

Bulan di senja hari

Sore ini seperti biasa seorang gadis bernama Bulan duduk termenung sendiri di kursi taman. Tangannya lincah memainkan harmonica yang dibawanya. Ia selalu memainkan lagu- lagu sendu. Mengesankan sekali melihatnya bermain harmonica.

Sebenarnya ia seorang gadis yang cantik, dengan tinggi yang semampai, rambut yang hitam alami dan kulitnya yang putih langsat, juga hidungnya yang mancung. Tapi sayang, di balik semua kecantikan yang dimiliki nya, ia adalah seorang gadis penderita tunanetra. Kecelakaan pesawat yang membuatnya kehilangan penglihatannya, beruntung ia selamat, karna hanya beberapa yang selamat dari kecelakaan itu. Bahkan orang tuanya juga salah satu korban kecelakaan.

Setiap sore ia selalu duduk di kursi taman yang menghadap barat, arah matahari akan menuju peraduan nya. Walaupun ia tidak bisa melihat pemandangan hebat itu secara langsung, tapi ia bisa merasakan cahaya kehangatan meganya.

Duduk termenung sendiri meratapi nasibnya.

***

Sejenak Bulan menghentikan permainan harmonica nya. Aneh, dia merasa ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Sudah 2 bulan lebih ia melakukan ritual seperti ini dan biasanya tak ada seorang pun yang berniat menemaninya.

Ya sudahlah, mungkin ia hanya ingin duduk sejenak dan hanya untuk hari ini saja.

Bulan pun kembali melanjutkan permainan harmonicanya.

***

Tapi Bulan salah, ternyata 1 minggu kemudian seseorang itu masih disana, seseorang itu masih setia menemani Bulan di tempat kesayangannya. Bahkan pernah suatu hari ia sudah tiba lebih dulu dibanding Bulan dan ia mempersilahkan Bulan untuk duduk di sampingnya.

“Silahkan duduk nona cantik.” Suara nya terdengar berat, berarti ia seorang lelaki. Batin Bulan, tapi seketika ia mendengus. Dulu ribuan lelaki memujinya cantik, tapi sekarang begitu mereka tahu bahwa Bulan adalah seorang gadis tunanetra tak ada lagi seorang pun yang memujinya seperti itu. Mungkin seseorang di sebelahnya belum tahu bahwa ia seorang gadis tunanetra, dan Bulan yakin sebentar lagi ia pasti tahu.

***

Ternyata 2 minggu setelah kejadian itu ia masih saja duduk di bangku sebelahnya. Bulan tahu bahwa dia adalah orang yang sama dari wangi parfumnya. Entah apa yang dilakukannya, Bulan tak bisa melihatnya. Tapi ia tahu bahwa seseorang itu selalu berada di sisinya setiap senja di tempat kesayangannya.

Tak pernah ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua, hanya kesunyian yang mengisi. Tapi lambat laun, Bulan mulai merasa ada sesuatu yang berbeda darinya, entah apa. Dan tanpa Bulan sadari, ia mulai menunggu kehadirannya.

***

Hari ini pun Bulan kembali duduk di bangku taman kesayangannya. Tak lupa membawa serta harmonicanya.

Tapi seseorang yang ditunggunya tak kunjung datang. Akhirnya waktu Bulan untuk pulang pun tiba dan ia tak kunjung datang.

Huft, Bulan, mengapa kau bodoh sekali? Mengapa kau menunggunya? Untuk apa? Lagipula kau tidak pernah mengenalnya walaupun sudah hampir sebulan ia selalu duduk di kursi sebelahmu. Kau bahkan tidak tahu rupanya seperti apa bukan?

Lagipula, ini kan kursi milik umum, siapa saja boleh untuk duduk disini. Mungkin ia sudah tidak membutuhkan kursi ini lagi, bahkan mungkin ia tidak akan pernah kembali lagi. Jadi, mulai sekarang kau harus berhenti memikirkannya.

***

3 hari kemudian…

Bulan sama sekali tak menyangka bahwa seseorang itu akan kembali duduk di sampingnya.

“Dari kemarin aku perhatiin ternyata kamu jago juga ya main harmonica! Mau nggak kamu ngajarin aku?” Bahkan dia yang pertama kali mengajak berbicara.

“Nggak juga, aku nggak jago-jago banget kok.”

“Oh iya kenalin, namaku Reyhan, kamu?.” Reyhan mengulurkan tangannya. Oh, jadi namanya Reyhan. Bulan pun menjulurkan tangannya. Tapi karna ia tak bisa melihat, jadi ia menjulurkan tangannya ke arah lain.

Reyhan menyambut uluran tangan Bulan. “Namaku Bulan.”

“Bulan?”

“Iya, emang kenapa? Ada yang salah?”

“Nggak kok, nama kamu cantik, secantik orangnya. oh iya kamu jadi kan mau ngajarin aku main harmonica?”

“Boleh.” Bulan tersenyum indah sekali.

***

“Maaf  ya aku telat.”

“Nggak pa-pa, lagian kita juga nggak janjian kan?”

Reyhan tersenyum. “Oh iya aku punya sesuatu buat kamu?”

“Apa?”

“Nih, ice cream rasa vanilla.” Reyhan memberi ice cream itu ke tangan Bulan.

“Makasih.”

“Bulan, aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?”

“Nanya apa?”

“Kenapa sih kamu suka banget duduk disini?”

Bulan terdiam cukup lama. Reyhan merasa sedikit bersalah. “Aku salah ngomong ya Lan?”

“Aku juga nggak tau, yang jelas, aku ngerasa nyaman di tempat ini. Kamu sendiri ngapain sering kesini?”

Bukannya menjawab Reyhan malah tertawa. “Ternyata diem-diem kamu merhatiin aku ya?”

Bulan tersenyum malu-malu. “Apaan sih, jangan kegeeran deh.”

Akhirnya percakapan pun mengalir di antara mereka.

***

Tak terasa sudah 2 bulan lebih mereka saling berbagi satu sama lain, saling menunggu apabila yang satunya belum datang. Bahkan tak jarang mereka bergantian membawa bekal untuk dibagi ke yang tidak mendapat giliran. Bulan tak bisa menepati janji nya untuk melupakan Reyhan. perasaan itu tumbuh begitu saja dengan sendirinya.

“Ehm,” Reyhan berdeham pelan. Bulan terlonjak kaget, malu pada dirinya sendiri karna barusan ia memikirkan Reyhan.

“Kamu kenapa sih? Kaget banget kayaknya?” tanya Reyhan.

Bulan tersenyum gugup. “Enggak kok, biasa aja.”

“Bohong, tuh buktinya muka kamu udah kayak kepiting rebus saking merahnya.” Reyhan masih menggoda Bulan.

“Apaan sih? Jangan narsis deh jadi orang.”

Reyhan tertawa, Bulan ikut tertawa mendengarnya.

Tiba-tiba Reyhan terdiam cukup lama.

“Rey? Kamu masih disitu kan?” tanya Bulan khawatir.

Reyhan tersenyum. “Aku masih disini Bulan, aku nggak bakal pergi ninggalin kamu gitu aja.”

Bulan merasa ada sesuatu yang berbeda dari nada suara Reyhan.

“Maksud kamu?” suara Bulan tersangkut di tenggorokan, takut bahwa apa yang dikatakan Reyhan hanya main-main

“Bulan, aku baru sadar kalo aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?”

Bulan terdiam, tapi tiba-tiba ia mengambil tongkatnya dan bangkit berdiri meninggalkan Reyhan. Reyhan berlari mengejarnya. “Bulan, tunggu.” Reyhan menarik lengan Bulan.

“Aku salah ngomong ya?”

Bulan tak bergeming sedikit pun. Tiba-tiba ia terisak pelan.

“Maaf kalo aku udah nyakitin kamu, tapi aku Cuma mau jujur sama kamu tentang perasaan aku.”

Bulan masih terisak pelan, kemudian ia sudah melangkah pergi meninggalkan Reyhan.

***

Sudah seminggu ini Bulan tak mengujungi taman seperti biasanya. Ia tak mau bertemu Reyhan, ia takut jika ia harus bertemu dengan lelaki itu. Satu hal yang ia takutkan, Reyhan hanya memberinya harapan palsu.

Bulan sudah terlalu sering disakiti oleh lelaki. Banyak lelaki yang hanya melihat kecantikannya saja, tapi begitu mereka tahu bahwa ia buta. Mereka pergi meninggalkannya begitu saja. Ia heran, apa orang buta seburuk itu di mata mereka? Bukankah banyak orang buta yang bisa menorehkan prestasi? Ya, walaupun ia tak menolehkan prestasi apa-apa tapi ia yakin bahwa ia bukan pembawa sial yang menularkan firus. Jadi mereka tak perlu takut untuk berdekatan dengannya.

Bahkan, mantan pacarnya sendiri tega meninggalkannya begitu tahu bahwa ia buta. Ia tak mengerti apa yang ada di pikiran Bima-mantan kekasihnya-. Padahal saat itu ia benar-benar butuh dukungan seseorang, tapi ya sudahlah. Semuanya sudah berlalu.

Dan sekarang Bulan tak ingin tertipu untuk yang kesekian kalinya.

***

Tapi Bulan sudah memutuskan ia akan menanggung semua resikonya. Akhirnya setelah menguatkan hatinya ia akan kembali ke taman itu. Ia yakin Reyhan pasti masih menunggunya.

Ternyata benar, ia merasakan ada seseorang yang sedang duduk di kursi taman. Dan Bulan yakin bahwa ia adalah Reyhan.

“Bulan, akhirnya kamu kembali. Aku tau kalo kamu pasti kembali.” Ternyata Reyhan memang masih menunggunya. Reyhan menuntun Bulan untuk duduk.

“Kamu apa kabar Lan?”

“Baik, kamu sendiri?”

“Merasa lebih baik setelah ketemu kamu lagi.” Ujar Bulan mantap.

Reyhan terperangah mendengarnya. “Apa? Kamu bilang apa tadi?”

“Merasa lebih baik setelah ketemu kamu lagi.” Ulang Bulan sekali lagi tanpa ragu.

Tanpa ba-bi-bu Reyhan langsung merengkuh Bulan kepelukannya. “Makasih kamu udah ngasih kepercayaan buat aku. Aku janji nggak bakal ngehianatin kepercayaan yang udah kamu kasih.”

Bulan meraba wajah Reyhan, mencoba membaca guratan-guratan di wajahnya. Reyhan mengambil tangan Bulan kemudian dikecupnya tangan itu.

Bulan tersenyum. Ia bisa mendengar keseriusan dari suara Reyhan. Harusnya dari awal ia percaya padanya.

***

Tapi Bulan keliru.

Walaupun mereka hanya bertemu di taman tapi hubungan mereka berkembang dengan baik. Tak ada yang berubah dengan jadwal rutin mereka. Setiap senja selalu bertemu di taman, menikmati senja bersama-sama.

Tepat 4 bulan setelahnya 3 hari berturut-turut Reyhan tidak datang, Bulan khawatir kalau Reyhan memang hanya ingin menipunya dengan janji cinta yang diberikannya. Tapi Bulan buru-buru mengusir pikiran jahat yang ada di benaknya.

***

 Hingga hari ke-4 akhirnya kabar baik itu datang. Bukan, bukan kedatangan Reyhan yang menjadi kabar baiknya, tapi akhirnya ada seorang pendonor yang ingin memberikan matanya untuk Bulan.

Bulan sangat bahagia mendengarnya. Ingin rasanya segera menceritakan hal ini pada Reyhan. Tapi sayang, hingga sehari sebelum operasi dilakukan Reyhan tak kunjung datang. Bulan melangkah gontai meninggalkan taman.

***

Bulan benar-benar bahagia. Akhirnya dia bisa melihat lagi setelah 2 tahun ia menderita sebagai tunanetra. Dengan langkah yang pasti ia melangkahkan kaki menuju taman. Ia merasa tatapan heran dari para pengunjung taman sedang menghujaninya. Ia yakin mereka heran karna kini ia bukan lagi seorang gadis buta. Akhirnya dia kembali menjadi normal seperti yang lainnya.

Kali ini Bulan tidak lagi memainkan lagu-lagu sendu dari harmonicanya. Sekarang ia lebih suka memainkan lagu-lagu ceria.

Bulan menanti dengan hati berdebar kedatangan Reyhan. Tak sabar ingin memberi tahukan kabar baik yang di alaminya.

Tapi hari ini Reyhan tak juga datang. Baiklah, mungkin ia sedang sibuk. Bulan yakin esok pasti ia akan datang seperti biasanya.

***

 Tapi Bulan benar-benar keliru. Hingga dua minggu kemudian Reyhan tak juga datang. Bahkan pernah sekali waktu Bulan kehujanan di kursi taman karna ia menungu Reyhan. Bulan tak kunjung menyerah, dengan keyakinan yang kuat ia yakin bahwa Reyhan akan kembali padanya. Tapi Reyhan benar-benar tidak pernah kembali.

Mungkin memang aku yang tak tau diri. Menanti cinta seorang pangeran impian. Hh, mana ada pangeran di jaman sekarang? Mungkin memang sudah menjadi takdirku untuk dipermainkan oleh laki-laki. Tapi masalahnya melupakan perasaan tak semudah membalikkan telapak tangan. Aku menyesal pernah mengenalmu Reyhan, aku menyesal karna kau tidak ada bedanya dengan lelaki manapun.

Tapi mau bagaimana lagi? Aku mau mencarimu kemana? Jangankan alamat rumahmu, wajahmu saja aku tidak tau seperti apa. Jadi bagaimana mungkin aku mencari seseorang yang tidak kuketahui sedikit pun ciri-cirinya.

***

Dengan langkah ringan Reyhan berjalan menghampiri Bulan di seberang. Tangannya memegang mawar merah yang ingin diberikannya pada Bulan. Tapi karna tidak memperhatikan jalan tiba-tiba ada motor yang menabraknya dan tubuhnya terpental beberapa meter.

Tubuh Reyhan sudah bersimbah darah, tangannya masih memegang mawar yang semakin merah karna percikan darahnya. Pengendara motor yang tidak bertanggung jawab meninggalkannya begitu saja. Para pejalan kaki di sekitar taman pun langsung mengerumuni tubuh Reyhan yang lemah tak berdaya. Mereka ingin segera membawa tubuh Reyhan ke rumah sakit.

Dengan sisa-sisa kesadaran yang dimilikinya tangan Reyhan menunjuk Bulan yang sedang menunggunya di tempat biasa mereka bertemu. Lantas berkata lirih pada seseorang di sebelahnya.

“Mas, saya boleh minta tolong sama mas? Kalau nanti nyawa saya tidak bisa diselamatkan tolong donorkan mata saya untuk dia.” Tangannya masih menunjuk Bulan.

“Maksud mas mba yang lagi duduk di situ?” orang disebelahnya bertanya memastikan.

Reyhan mengangguk, anggukannya lemah sekali. Sepertinya ia benar-benar akan pergi. “Tolong ya mas.” Dengan sisa-sisa nafasnya Reyhan mengatakannya.

Bulan, maafkan aku, aku harus pergi Bulan, maaf aku pergi tanpa pamit. Maaf karna 3 hari yang lalu aku tidak sempat menemuimu. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Setelah aku pergi kau akan kembali normal dan bisa melihat lagi dengan kedua mataku. Maafkan aku, sungguh maafkan aku Bulan. Aku mencintaimu, selamanya.

Setelah membatin seperti itu, nafas Reyhan benar-benar berhenti. Ia sudah pergi meniggalkan cintanya. Tapi Reyhan yakin kepergiannya tidak akan sia-sia, ia yakin pergi dengan meninggalkan kebahagiaan untuk Bulan. Ia bahagia bisa mendonorkan matanya untuk seseorang yang dicintainya.

***

Tapi Bulan tidak pernah tahu tentang hal ini, ia tidak akan pernah tahu.   by Salma Sarajevo

Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan